Ilmuwan Indonesia Temukan Bukti Migrasi Pertama dari Papua ke Wallacea

SiarKota.Com | Artikel Ilmiah—Sebuah studi baru dari Universitas Adelaide dan Universitas Nasional Australia telah menguraikan bukti genomik pertama mengenai migrasi awal dari Papua Nugini ke Wallacea.

Wallacea adalah kawasan biogeografis yang mencakup sekelompok pulau di wilayah Indonesia bagian tengah. Nama Wallacea berasal dari seorang naturalis Alfred Russel Wallace yang telah mendeskripsikan batas-batas biologis kawasan zoogeografis yang dikenal sebagai Garis Wallace.

Secara umum dapat dikatakan bahwa kawasan Wallacea memuat seluruh Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku. Wilayah ini terletak di antara Paparan Sunda di barat dan Paparan Sahul di timur. Total luas daratan kawasan Wallacea sekitar 347.000 km².

Dikombinasikan dengan bukti linguistik dan arkeologi, penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Wallacea ditransformasikan oleh penyebaran gen dan bahasa dari Papua Barat pada 3.500 tahun yang lalu—periode yang sama ketika para pelaut Austronesia secara aktif bercampur dengan kelompok-kelompok Wallacea dan Papua.

“Rekan-rekan saya di Proyek Keragaman Genom Indonesia telah mempelajari struktur genetik Indonesia yang kompleks selama lebih dari satu dekade. Namun, studi komprehensif yang kami lakukan ini memberikan konfirmasi bahwa leluhur Papua tersebar luas di seluruh Wallacea, yang menunjukkan adanya migrasi historis dari Papua Nugini,” ujar penulis utama Dr. Gludhug Ariyo Purnomo dari Program Studi Biologi Universitas Adelaide.

“Dengan menghubungkan titik-titik antara genetika, linguistik, dan arkeologi, kami sekarang mengakui Papua Barat sebagai pusat bio-budaya yang penting. Mereka menyumbangkan hingga 60% nenek moyang Wallacea modern.”

Penelitian genom juga menjadi semakin penting untuk mengembangkan obat-obatan baru yang disesuaikan dengan latar belakang genetik tertentu.

“Pada era pengobatan presisi, memahami struktur genetik kelompok manusia sangat penting untuk mengembangkan pengobatan yang bermanfaat dan bukannya berbahaya. Di sini Wallacea dan Papua Nugini kurang terwakili dalam survei genomik pada masa lalu,” kata Dr. Purnomo.

Professor Ray Tobler dari Universitas Nasional Australia mengatakan bahwa Wallacea telah terisolasi selama lebih dari 45.000 tahun sejak kedatangan kelompok manusia pertama. Pendatang dari Papua dan Austronesia yang baru-baru ini tiba telah mengonfigurasi ulang budaya Wallacea dengan memperkenalkan bahasa-bahasa baru yang beragam dan bercampur aduk untuk menciptakan lanskap bahasa yang kaya.

“Temuan kami menunjukkan bahwa migrasi Papua dan Austronesia sangat luas, sehingga sebagian besar telah menimpa nenek moyang para migran pertama,” kata Profesor Tobler, yang juga merupakan Peneliti Madya di Pusat DNA Kuno Australia di Universitas Adelaide.

Menurut para peneliti, ada tantangan dalam merekonstruksi pergerakan manusia pada masa lalu dengan menggunakan data genetik modern karena adanya migrasi dan pergerakan historis.

“Ada begitu banyak pergerakan di Wallacea dalam beberapa ribu tahun terakhir karena perdagangan rempah-rempah dan perbudakan, sehingga mengaburkan hubungan antara geografi dan genetika,” kata Professor Tobler.

“Apa yang kita ketahui tentang Wallacea dan Papua Nugini hanyalah puncak gunung es. Namun, penggunaan DNA purba dapat membantu mengatasi beberapa tantangan ini dan membantu kita memahami asal-usul dan warisan perjalanan manusia di wilayah ini sejak puluhan ribu tahun yang lalu.”

IKLAN BAWAH

spot_img

SIAR IKLAN

Layanan IklanPresiden Suharto

SIAR TERKENAL

SIAR TERKAIT