Kebiasaan Buruk pada Usia 20-an Berdampak pada Usia 30-an sampai 50-an

SiarKota.Com | Artikel Ilmiah—Kebiasaan buruk sejak usia 20 tahun, seperti merokok, minum alkohol, dan malas berolahraga, ternyata membuat kesehatan fisik dan mental menurun saat berusia 30 tahun. Kesimpulan tersebut berasal dari para peneliti Finlandia yang mengamati sekelompok orang selama 30 tahun! 

Parahnya lagi, efek negatif ini semakin bertambah parah ketika mereka terus melakukan kebiasaan tersebut. Intinya, studi baru ini mengatakan bahwa kebiasaan merokok, minum alkohol, dan malas berolahraga sejak muda itu benar-benar merusak kesehatan fisik dan mental saat masuk usia paruh baya.

Kalau kita mau mempunyai masa tua yang sehat dan bahagia, kita harus bisa menghindari gaya hidup yang berbahaya—seperti merokok, minum alkohol, dan malas berolahraga—sedini mungkin. Itulah pesan utama studi baru yang sudah diulas dan terbit di jurnal Annals of Medicine.

Penelitian ini menemukan kaitan antara kebiasaan buruk dan penurunan kesehatan fisik serta mental saat mereka berumur 30 tahun! Tim peneliti dari Finlandia mengatakan, efeknya terasa semakin parah ketika kebiasaan buruk ini bertahan selama bertahun-tahun.

Mengintip Lebih Dekat Studi Unik Ini

Hebatnya, penelitian ini memantau kesehatan ratusan orang selama 30 tahun! Jadi, kita bisa mendapat gambaran jangka panjang yang lengkap. Biasanya, studi lain baru mulai memantau orang dari usia 50 tahun dan berlangsung selama 20 tahun. Nah, studi baru ini berbeda karena mulai mengamati orang sejak mereka masih berusia 20 tahun dan berjalan selama 30 tahun.

Selain itu, studi ini juga unik karena melihat bagaimana pilihan gaya hidup ini memengaruhi bukan hanya kesehatan fisik, melainkan juga kesehatan mental.

Tim peneliti menggunakan studi longitudinal jangka panjang. Artinya, mereka mengikuti ratusan anak yang lahir di kota Jyväskylä, Finlandia, pada tahun 1960. Tim ini menganalisis kesehatan mental dan fisik para peserta melalui survei dan pemeriksaan medis saat mereka berusia 20 tahun (ada 326 orang waktu itu), lalu saat mereka berusia 30, 40, 50, dan 60 tahun (tersisa 206 orang).

Untuk kesehatan mental, tim peneliti menggunakan survei tentang gejala depresi dan kesejahteraan psikologis. Sedangkan kesehatan fisik, mereka membuat skor risiko metabolik berdasarkan tekanan darah, lingkar pinggang, kadar gula darah, kolesterol, dan lemak darah. Mereka juga menanyakan peserta bagaimana kondisi kesehatan mereka setahun terakhir (penilaian mandiri).

Nah, selain kesehatan, ada tiga perilaku berisiko yang juga dinilai di setiap waktu: merokok, minum alkohol berlebihan (buat wanita minimal 7.000 gram atau 875 unit alkohol setahun; buat pria minimal 10.000 gram atau 1.250 unit alkohol setahun), dan tidak aktif secara fisik (olahraga kurang dari sekali seminggu).

Apa Kata Hasil Penelitian?

Hasilnya menunjukkan, orang yang melakukan ketiga kebiasaan tidak sehat itu (merokok, minum alkohol, dan malas berolahraga) pada satu waktu tertentu, kondisi kesehatan mental dan fisiknya lebih buruk dibandingkan mereka yang tidak punya kebiasaan itu. Kalau dibandingkan dengan orang yang lebih sehat: gejala depresi naik 0,1 poin, skor risiko metabolik naik 0,53 poin, kesejahteraan psikologis turun 0,1 poin, dan penilaian kesehatan mandiri turun 0,45 poin (berdasarkan skala pengukuran masing-masing).

Kalau ketiga kebiasaan berisiko itu dilakukan dalam jangka panjang, hasilnya lebih parah lagi. Gejala depresi naik 0,38 poin, risiko metabolik naik 1,49 poin, kesejahteraan psikologis turun 0,14 poin, dan penilaian kesehatan mandiri turun 0,45 poin. Jadi, jelas sekali dampak kebiasaan buruk dalam jangka panjang itu lebih parah.

Menariknya, ada kaitan spesifik: kurang olahraga berkaitan dengan kesehatan fisik yang buruk, merokok berkaitan dengan kesehatan mental yang buruk, dan konsumsi alkohol berlebihan berkaitan dengan penurunan kesehatan fisik dan mental. Yang paling penting, efek-efek ini sudah kelihatan saat peserta studi memasuki usia pertengahan 30-an!

Pesan Penting dari Peneliti Utama

“Penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan kanker ini menyebabkan hampir tiga perempat kematian di seluruh dunia,” kata Dr. Tiia Kekäläinen, ketua peneliti yang ahli kesehatan dan penuaan.

Dia menambahkan, “Namun, dengan mengikuti gaya hidup sehat, seseorang bisa mengurangi risiko terkena penyakit-penyakit ini dan mengurangi kemungkinan meninggal lebih awal.”

Dr. Kekäläinen menekankan lagi, “Temuan kami menyoroti pentingnya menghindari perilaku berisiko sedini mungkin, seperti merokok, minum alkohol berlebihan, dan tidak aktif berolahraga.”

Dia melanjutkan, “Dengan menghindari perilaku berisiko tersebut, kita bisa mencegah kerusakan yang menumpuk selama bertahun-tahun. Namun, tidak ada kata terlambat untuk mengubah kebiasaan berisiko tersebut. Kita bisa melakukan kebiasaan sehat pada usia paruh baya yang akan bermanfaat pada usia tua.”

Catatan Penting dan Keterbatasan Studi

Para penulis mengingatkan bahwa studi ini sifatnya observasional. Jadi, mereka tidak bisa memastikan 100% kalau perilaku berisiko itu menyebabkan kesehatan buruk atau malah sebaliknya. Mereka mengatakan hubungannya kemungkinan dua arah. Contohnya, orang stres mungkin minum banyak untuk mengatasi stresnya. Namun, perbuatan itu malah menimbulkan masalah dengan keluarga dan teman. Ujung-ujungnya, kesehatan mental mereka semakin buruk.

Mereka juga menambahkan bahwa hasil ini mungkin paling relevan untuk orang Finlandia yang lahir pada tahun 1960-an. Mungkin tidak terlalu relevan untuk generasi yang lebih muda. Mereka memiliki budaya, sosial, dan jenis perilaku berisiko yang berbeda.

Keterbatasan lain dari studi ini adalah mereka menganggap ketiga kebiasaan itu sama berbahayanya, padahal mungkin dampaknya berbeda-beda. Para peneliti juga mengakui sebaiknya memasukkan faktor lain, seperti pola makan (diet).

IKLAN BAWAH

spot_img

SIAR IKLAN

Layanan IklanPresiden Suharto

SIAR TERKENAL

SIAR TERKAIT