SiarKota.Com | Filsafat—Kita semua lelah. Dunia terasa kaku dan penuh benturan. Semua dilabeli secara paksa: “kita” versus “mereka”, “benar” versus “salah”, “hitam” versus “putih”.
Polarisasi ini meracuni diskusi publik. Karena itu, kita terjebak dalam debat kusir yang tidak menghasilkan apa-apa selain kelelahan.
Bagaimana jika masalahnya bukan pada topik debatnya? Bagaimana jika “kacamata” yang kita pakai selama ini memang sudah rusak?
Jebakan “Versus”
Kita bertanya langsung kepada Raviyanto, pencipta gagasan Filsafat Perbatasan. Apa biang keroknya?
“Kita memandang batas itu selama ini sebagai ‘versus’ atau lawan,” tunjuk Raviyanto.
Dia mengkritik cara pandang lama. “Batas tidak dilihat sebagai penghubung. Batas tidak dianggap sebagai ruang dialog.”
Ini adalah kesalahan fatal. Raviyanto menawarkan dobrakannya: ubah kata “lawan” menjadi “dan”.
“Jadi,” tegasnya, “kita menciptakan ruang bersama di sini.”
Gagasan inilah yang dia sebut sebagai Filsafat Perbatasan. Sebuah tamparan agar kita berhenti melihat batas sebagai tembok. Batas adalah jembatan.
Logika Konduktif: Alat Bedah Kejujuran
Gagasan ini tidak berhenti di angan-angan. Ada alatnya: Logika Konduktif.
Apa itu? Kami meminta Raviyanto menjelaskan.
“Kata konduktif di sini berarti ‘bersama’ atau ‘berimbang’,” jawabnya. “Dengan logika konduktif kita bisa berdialog bersama dan berimbang.”
Ini adalah logika yang menolak jebakan “benar atau salah” yang kaku. Tujuannya satu: keterbukaan. Tidak ada yang ditutup-tutupi.
Raviyanto memakai analogi yang menusuk.
“Katakanlah si A memiliki jalan A yang menuju ke Selatan. Si A mengatakan bahwa jalan A menuju ke surga,” paparnya. “Lalu, si B memiliki jalan B yang menuju ke Utara. Si B juga mengatakan bahwa jalan B menuju ke surga.”
Logika lama akan sibuk meributkan siapa yang benar. Logika Konduktif membongkar kebuntuan itu.
“Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu surga. Tetapi mereka menempuhnya dengan cara dan jalan yang berbeda,” jelas Raviyanto.
Namun, dia memberi catatan krusial. Ini bukan berarti semua cara dibenarkan.
“Ingat,” tegas Raviyanto, “yang kita bicarakan adalah tujuan yang sama, bukan jalan yang berbeda.”
Kebenarannya diuji. “Jika jalan yang kita tempuh memang mencapai tujuannya, di situlah muncul ‘kebenaran’ tujuan.”
“Artinya,” simpulnya, “kita tidak berbohong pada tujuan kita.”
Menghentikan Kebisingan
Lihat saja debat kebijakan di media sosial. Bising, tetapi nol hasil. Kubu A dan Kubu B sibuk memoles “jalan”-nya agar terlihat paling suci.
Logika Konduktif menghentikan kebisingan itu.
Logika ini tidak peduli “Jalan A” atau “Jalan B”. Kondisi ini memaksa kita mundur dan bertanya: “Apa ‘tujuan bersama’ kita? Menyejahterakan rakyat? Mengurangi kemacetan?”
Setelah kita menyepakati tujuan, Logika Konduktif menjadi algojo data.
Raviyanto menantang kita. “Kalau kita sudah punya fondasi yang benar, kita dapat melihat apakah kebijakan publik itu telah berhasil mencapai tujuannya atau gagal?”
Seketika, fokusnya berubah.
Kita tidak lagi berdebat siapa yang paling pandai bicara. Kita dipaksa jujur: mana buktinya? Gagal, ya akui gagal.
Beranikah Kita Fokus pada Hasil?
Filsafat Perbatasan dan Logika Konduktif adalah ajakan yang tidak nyaman. Ini ajakan untuk berhenti bersembunyi di balik retorika.
Raviyanto menutupnya dengan tajam.
“Mari kita befokus pada tujuan kita, bukan pada cara,” desaknya. “Jalan atau cara kita bisa berbeda, tetapi tujuan kita sama.”
Bagaimana dengan ideologi yang berbeda? “Ideologi A bertujuan menyejahterakan warganya. Ideologi B juga bertujuan menyejahterakan warganya.”
Mana yang benar? “Bila kedua ideologi itu bisa mencapai tujuannya, kedua ideologi itu benar,” tegas Raviyanto. “Jadi kebenaran bisa kita lihat pada hasil akhirnya.”
Pesan ini membungkam perdebatan yang tidak perlu. “Sebelum itu terbukti berhasil atau tidak, kita tidak perlu berdebat apakah jalan kita benar atau salah.”
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: Beranikah kita jujur pada data?
“Jadi,” simpulnya, “kita lihat berdasarkan peta, apakah tujuan kita tercapai atau gagal.”



