SiarKota.Com | Teknologi—Tiga tahun lalu, tepatnya 30 November 2022, OpenAI meluncurkan ChatGPT hanya sebagai sebuah “pratinjau riset sederhana”.
Siapa sangka, hari ini chatbot tersebut telah menjadi raksasa dengan 800 juta pengguna aktif setiap minggunya. Angka ini bahkan diprediksi bakal menembus 1 miliar pengguna pada akhir tahun nanti.
Namun, pesta ulang tahun ketiga ini terasa sedikit pahit.
Di balik angka pengguna yang fantastis, OpenAI justru sedang menghadapi badai persaingan terberatnya. Google, sang raksasa teknologi, akhirnya bangun dari tidurnya dan siap merebut takhta.
Gemini 3 Pro Mengacaukan Pesta
Google meluncurkan Gemini 3 Pro pada 18 November lalu. Kehadirannya sukses membuat CEO OpenAI Sam Altman ketar-ketir.
Laporan dari The Information menyebutkan bahwa Altman langsung memperingatkan karyawannya untuk bersiap menghadapi “masa-masa menantang” dan hambatan ekonomi.
Kekhawatiran Altman sangat beralasan. Gemini 3 kini memimpin papan skor benchmark dengan nilai 1324. Angka ini sukses mengasapi model andalan OpenAI, GPT-5.1, yang tertinggal di skor 1220.
Bahkan, CEO Salesforce secara terbuka menyatakan “pindah hati”.
Setelah tiga tahun setia menggunakan ChatGPT setiap hari, dia beralih ke Gemini 3. Alasannya sederhana: lompatan kinerja dalam hal penalaran dan kecepatan Google terasa jauh lebih signifikan.
Penyakit Lama yang Tak Kunjung Sembuh
Masalah ChatGPT bukan cuma soal persaingan luar, tapi juga kualitas di dalam. “Penyakit lama” berupa halusinasi ternyata masih belum terobati sepenuhnya.
Sebuah studi dari Universitas Deakin menampar keras reputasi OpenAI. Mereka menemukan bahwa ChatGPT memalsukan sekitar satu dari lima kutipan akademis.
Lebih parah lagi, 56% dari semua kutipan yang dihasilkan ternyata palsu atau mengandung kesalahan fatal.
Kritikus berpendapat bahwa kelemahan mendasar seperti penalaran yang tidak andal dan ketidakmampuan untuk belajar secara mandiri masih menjadi PR besar.
Terkait hal ini, Sam Altman pun harus mengakui kenyataan pahit pada Agustus 2025 lalu.
“GPT-5 belum memenuhi kriteria untuk disebut sebagai AGI (Artificial General Intelligence), karena tidak memiliki kemampuan untuk belajar sendiri,”
— Sam Altman, CEO OpenAI
Rugi Bandar dan Mitos Produktivitas
Di sisi finansial, OpenAI sedang “berdarah-darah”.
Meski berhasil meraup pendapatan $4,3 miliar, perusahaan melaporkan kerugian bersih yang mencengangkan: $13,5 miliar hanya pada paruh pertama tahun 2025.
Mereka memproyeksikan kerugian operasional akan terus terjadi hingga mencapai puncaknya sebesar $74 miliar pada tahun 2028. Profitabilitas? Jangan harap sebelum tahun 2030.
Selain itu, janji manis tentang produktivitas AI mulai dipertanyakan.
Riset dari MIT Media Lab menemukan bahwa 95% organisasi tidak melihat pengembalian modal (return) yang jelas dari investasi AI mereka.
Fakta di lapangan justru ironis. Studi menunjukkan karyawan malah menghabiskan 41% waktu kerja mereka hanya untuk memverifikasi dan merevisi dokumen buatan AI.
Anton Dahbura, co-direktur Johns Hopkins Institute for Assured Autonomy, memang mengakui bahwa ChatGPT telah membuka “periode terobosan” bagi dunia.
Namun, dengan tekanan Google yang makin gila-gilaan dan kerugian finansial yang membengkak, ulang tahun ketiga ini menjadi titik penentuan. Apakah ChatGPT bisa bertahan sebagai raja atau kompetitor yang lebih canggih akan menggilasnya?



