Syaykh Al-Zaytun Gagas Pendidikan Indonesia Abadi Demi Kemandirian 2045

SiarKota.Com | Indramayu—Kita wajib membangun masa depan kedaulatan Indonesia di atas fondasi sistem pendidikan yang revolusioner, bukan sekadar program jangka pendek. Mahad Al-Zaytun mengangkat isu krusial ini sebagai sorotan utama dalam Simposium Pelatihan Pelaku Didik ke-31, Minggu (4/1/2026).

Forum strategis ini mempertemukan analisis akademis Guru Besar UPI Prof. Dr. H.A. Jajang W. Mahri, M.Si. dan visi kebangsaan Syaykh Al-Zaytun Prof. Dr. Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, M.P..

Strategi Memutus Lingkaran Kemiskinan

Prof. Jajang membuka simposium dengan mendiagnosis paradoks ekonomi Indonesia secara tajam. Meskipun ekonomi nasional tumbuh stabil pada angka 5%, realitas di lapangan menunjukkan ketimpangan yang mengkhawatirkan.

Bahkan, dia mengutip laporan lembaga riset internasional Oxfam yang mengungkap fakta pahit: 1% orang Indonesia menguasai lebih dari 50% kekayaan nasional. Prof. Jajang meyakini ketimpangan tersebut muncul akibat kualitas manusia yang belum merata, bukan sekadar kurangnya infrastruktur.

Selanjutnya, Prof. Jajang menggunakan teori ekonom Ragnar Nurkse tentang “Lingkaran Setan Kemiskinan” (Vicious Circle of Poverty) untuk membedah masalah ini.

“Masyarakat miskin terjebak dalam siklus: pendapatan rendah menyebabkan gizi dan pendidikan rendah. Akibatnya, kompetensi dan produktivitas menjadi rendah. Akhirnya, pendapatan kembali rendah. Siklus ini berputar terus dari orang tua ke anak,” kata Prof. Jajang menjelaskan teori Nurkse.

Oleh sebab itu, dia menegaskan negara wajib melakukan intervensi melalui pendidikan berkualitas untuk memutus rantai tersebut. Akan tetapi, dia juga mengingatkan agar kita tidak terjebak pada formalitas durasi sekolah semata.

Berdasarkan riset Bank Dunia dan data PISA, Prof. Jajang menyoroti bahwa kualitas pembelajaran jauh lebih menentukan pertumbuhan ekonomi daripada lamanya bersekolah.

“Skor PISA anak-anak kita masih rendah, rata-rata 371 untuk membaca. Negara yang hanya memperluas akses sekolah tanpa memperbaiki mutu akan terjebak situasi di mana anak bersekolah tetapi tidak benar-benar belajar,” kata Prof. Jajang.

Maka dari itu, dia menilai sistem pendidikan pesantren modern seperti Al-Zaytun—yang menerapkan disiplin 24 jam dan ekosistem mandiri—merupakan model ideal. Negara harus mereplikasi model ini dengan membangun 500 sekolah unggul di seluruh provinsi.

Fondasi Tiga Kesadaran dan Tiga IPM

Menanggapi paparan akademis tersebut, Syaykh Panji Gumilang menjelaskan basis keberhasilan pendidikan Al-Zaytun. Ternyata, keberhasilan ini merupakan hasil riset 26 tahun yang menanamkan Tiga Kesadaran utama: Kesadaran Filosofis, Kesadaran Ekologis, dan Kesadaran Sosial.

Lebih lanjut, Al-Zaytun membuktikan keberhasilan tersebut melalui capaian Tiga IPM nyata di kampus:

  1. Pendidikan: Rata-rata lama sekolah mencapai 12 tahun (setara standar Amerika).
  2. Ekonomi: Mencapai kemandirian pangan (self-sufficiency) dengan cadangan logistik cukup untuk 18 bulan ke depan.
  3. Kesehatan: Menjamin layanan medis warga kampus tanpa hambatan biaya.

Mengusung Konsep “Pendidikan Indonesia Abadi”

Berpijak pada bukti empiris tersebut, Syaykh mengoreksi penamaan program pemerintah “Sekolah Unggul Garuda”. Kemudian, beliau mengingatkan filosofi di balik nama tersebut.

“Garuda itu ada matinya, paling lama 40 tahun,” kata Syaykh.

Sebagai gantinya, Syaykh menggagas nama “Pendidikan Indonesia Abadi”. Nama ini bukan sembarang slogan, melainkan merujuk pada Janji Kebangsaan dalam Stanza III lagu Indonesia Raya yang berbunyi: “Marilah kita berjanji, Indonesia abadi”.

Menurut Syaykh, kurikulum rancangannya memuat komposisi 90% Vokasi dan 10% Akademik. Nantinya, lulusan sistem ini akan mengerjakan 5 Proyek Strategis Nasional:

  1. Transportasi: Membangun kereta api pesisir yang melingkari pulau besar dan kapal feri rel.
  2. Pelabuhan: Memodernisasi konektivitas logistik antar-pulau.
  3. Pangan: Mengintensifikasi lahan pertanian untuk memberi makan 2 miliar penduduk dunia.
  4. Alutsista: Memproduksi pertahanan mandiri mulai tahun 2038.
  5. Nuklir: Mengembangkan energi nuklir untuk kemanusiaan.

“Bangsa Indonesia harus mampu mengatakan: Ini Aku Bangsa Indonesia. Bukan kiblatku Amerika, bukan kiblatku Cina,” kata Syaykh menutup orasinya dengan penuh semangat.

Simak video selengkapnya:

Video: Suasana Simposium di Mahad Al-Zaytun

IKLAN BAWAH

spot_img

SIAR IKLAN

Layanan IklanPresiden Suharto

SIAR TERKENAL

SIAR TERKAIT