Dinosaurus Tertua Bermula dari Benua Utara atau Benua Selatan?

SiarKota.Com | Artikel Ilmiah—Bagaimana dan kapan dinosaurus pertama kali muncul dan menyebar ke seluruh planet ini lebih dari 200 juta tahun yang lalu? Pertanyaan tersebut telah menjadi sumber perdebatan di antara para ahli paleontologi.

Pandangan umum selama ini menyatakan bahwa reptil muncul di Benua Selatan (Gondwana) jutaan tahun sebelum menyebar ke Benua Utara (Laurasia). Pandangan ini berdasarkan pada penemuan fosil dinosaurus Gondwana pada 2014 di Kota Paraiso do Sul, Rio Grande do Sul, Brasil.

Perlu pembaca ketahui bahwa dulunya hanya ada satu benua dan satu samudra, yaitu Benua Pangea dan Samudra Panthalessa.

Sekitar 180 juta tahun yang lalu, benua ini pecah menjadi dua benua besar, yakni Laurasia di bagian utara, serta Gondwana di sebelah selatan.

Bagian barat Benua Laurasia bergerak ke arah utara menjauhi Benua Gondwana, yang akhirnya membentuk Benua Amerika Utara. Sedangkan bagian barat Benua Gondwana bergerak ke arah barat, hingga membentuk Benua Amerika Selatan.

Para ahli paleontologi dari University of Wisconsin-Madison menantang pernyataan bahwa dinosaurus pertama berada di Amerika Selatan.

Tim UW-Madison telah menganalisis fosil dinosaurus tertua yang ditemukan pada tahun 2013 di Wyoming. Wyoming pada  zaman dahulu termasuk wilayah Laurasia.

Makhluk yang diberi nama Ahvaytum bahndooiveche ini merupakan dinosaurus Laurasia tertua yang pernah diketahui. Usia fosil ini diperkirakan sekitar 230 juta tahun. Usianya sebaya dengan dinosaurus Gondwana yang paling awal.

Para ilmuwan UW-Madison dan mitra peneliti mereka merinci penemuan mereka pada 8 Januari 2025 di Zoological Journal of the Linnean Society.

“Dengan fosil-fosil ini, kami memiliki dinosaurus khatulistiwa tertua di dunia, juga dinosaurus tertua di Amerika Utara,” kata Dave Lovelace, seorang ilmuwan peneliti di Museum Geologi Universitas Wisconsin yang memimpin penelitian ini bersama mahasiswa pascasarjana Aaron Kufner.

Fosil-fosil Ahvaytum bahndooiveche ditemukan di lapisan batuan yang dikenal sebagai Formasi Popo Agie. Tim peneliti membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menganalisis fosil-fosil tersebut, menetapkannya sebagai spesies dinosaurus baru, dan menentukan perkiraan usianya.

Meskipun tim tidak memiliki spesimen yang lengkap—ini adalah kejadian yang sangat langka untuk dinosaurus purba—mereka menemukan cukup banyak fosil, terutama bagian kaki spesies ini, untuk secara positif mengidentifikasi Ahvaytum bahndooiveche sebagai dinosaurus, dan kemungkinan besar merupakan kerabat sauropoda yang sangat awal.

Sauropoda adalah kelompok dinosaurus herbivora yang mencakup beberapa spesies yang terkenal sangat besar, seperti titanosaurus. Padahal, kerabat spesies Ahvaytum bahndooiveche yang hidup jutaan tahun lebih awal berukuran lebih kecil, bahkan jauh lebih kecil.

“Pada dasarnya Ahvaytum bahndooiveche seukuran ayam, tetapi dengan ekor yang sangat panjang,” kata Lovelace. “Kita menganggap dinosaurus sebagai raksasa, padahal pada awalnya berukuran kecil.”

Spesimen Ahvaytum bahndooiveche dewasa tingginya sepertiga meter dan panjangnya sekitar tiga meter dari kepala ke ekor. Meskipun para ilmuwan belum menemukan tengkoraknya, yang dapat membantu menjelaskan apa yang dimakannya, dinosaurus yang masih berkerabat dekat dengan dinosaurus sauropoda ini awal mulanya memakan daging dan kemungkinan besar adalah omnivora.

Bukti-bukti menunjukkan bahwa Ahvaytum bahndooiveche hidup di Laurasia setelah periode perubahan iklim yang luar biasa yang dikenal sebagai episode pluvial Carnian, yang sebelumnya telah dikaitkan dengan periode awal diversifikasi spesies dinosaurus.

Iklim selama periode tersebut, yang berlangsung dari 234 hingga 232 juta tahun yang lalu, jauh lebih basah daripada sebelumnya, mengubah gurun pasir yang luas dan panas menjadi habitat yang lebih ramah bagi dinosaurus purba.

Lovelace dan rekan-rekannya melakukan penanggalan radioisotopik presisi tinggi pada bebatuan di formasi yang menyimpan fosil Ahvaytum, yang mengungkap bahwa dinosaurus tersebut ada di belahan bumi utara sekitar 230 juta tahun yang lalu.

Para peneliti juga menemukan jejak mirip dinosaurus purba di bebatuan yang sedikit lebih tua, yang menunjukkan bahwa dinosaurus atau sepupunya telah ada di wilayah tersebut beberapa juta tahun sebelum Ahvaytum.

“Kami sekarang memiliki bukti yang menunjukkan bahwa dinosaurus telah ada di belahan bumi utara jauh lebih awal daripada yang kita duga,” kata Lovelace. 

IKLAN BAWAH

spot_img

SIAR IKLAN

Layanan IklanPresiden Suharto

SIAR TERKENAL

SIAR TERKAIT