Ilmuwan Ungkap Makanan Berserat Memiliki Kekuatan Super Antikanker

SiarKota.Com | Artikel Ilmiah—Sebuah penelitian dari Fakultas Kedokteran Stanford, yang dipublikasikan Nature Metabolism, mengungkapkan bahwa serat mencegah kanker.

Para peneliti menjelaskan bahwa serat adalah sumber makanan bakteri baik di usus untuk memproduksi asam lemak rantai pendek atau short chain fatty acid (SCFA). 

SCFA, khususnya propionat dan butirat, menyebabkan perubahan epigenetik yang mengatur pertumbuhan, perkembangan, dan kematian sel. Perubahan epigenetik ini menjadi faktor kunci dalam pencegahan kanker.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 93,5 persen masyarakat Indonesia masih mengalami kesulitan untuk memenuhi 30 gram serat yang jadi kebutuhan harian. Laki-laki disarankan mengonsumsi serat sebanyak 28–37 gram per hari, sedangkan perempuan 27–32 gram per hari.

Penelitian baru dari Fakultas Kesehatan Stanford ini dapat memberikan alasan kuat untuk meningkatkan asupan makanan kaya serat, seperti kacang, sayur, buah, dan biji.

Ketika kita makan makanan berserat, mikrobioma usus menghasilkan asam lemak rantai pendek (SCFA). Senyawa ini tidak hanya menjadi sumber energi bagi kita, tetapi juga memengaruhi fungsi gen.

Para peneliti menelusuri bagaimana dua asam lemak rantai pendek yang paling umum dalam usus kita, propionat dan butirat, mengubah gen pada sel manusia yang sehat, pada sel kanker usus besar manusia yang diobati dan yang tidak diobati, dan pada usus tikus.

Mereka menemukan perubahan epigenetik pada gen yang mengatur pertumbuhan, perkembangan, dan kematian sel. Perubahan epigenetik itu penting untuk mengendalikan pertumbuhan sel yang tidak terkendali yang menyebabkan timbulnya kanker.

Hubungan Langsung Antara Serat dan Pencegahan Kanker

“Kami menemukan hubungan langsung antara makanan berserat dan modulasi fungsi gen yang memiliki efek antikanker. Kami pikir ini kemungkinan besar merupakan mekanisme global karena asam lemak rantai pendek yang dihasilkan dapat menyebar ke seluruh tubuh,” kata Michael Snyder, ahli genetika dari Standford.

“Pada umumnya pola makan masyarakat sangat rendah serat. Bakteri baik yang ada dalam usus mereka tidak diberi makan dengan benar, sehingga tidak dapat membuat asam lemak rantai pendek sebanyak yang seharusnya. Kebiasaan makan rendah serat ini tidak baik bagi kesehatan.”

Temuan ini juga dapat memacu pembicaraan dan penelitian tentang kemungkinan efek sinergis dari diet dan pengobatan kanker.

“Dengan mengidentifikasi target gen dari molekul-molekul penting ini, kita dapat memahami bagaimana serat memberikan efek yang menguntungkan bagi penderita kanker,” tambah Snyder.

IKLAN BAWAH

spot_img

SIAR IKLAN

Layanan IklanPresiden Suharto

SIAR TERKENAL

SIAR TERKAIT