SiarKota.Com | Kisah Ilmiah—“Bu, internetnya mati lagi!” keluh Dani, seorang mahasiswa di Peru, saat kuliah daringnya tiba-tiba terputus. Dia bukan satu-satunya yang mengalami kejadian ini. Sejak pandemi COVID-19 melanda, jutaan mahasiswa di seluruh dunia, termasuk di Amerika Selatan, harus beradaptasi dengan sistem pembelajaran jarak jauh yang penuh dengan tantangan.
Namun, seperti kata pepatah, “Di balik kesulitan selalu ada kemudahan.” Begitu pula dengan dunia pendidikan yang harus memutar otak agar pembelajaran tetap berjalan meskipun dunia sedang dalam krisis. Nah, bagaimana sebenarnya perjalanan ekosistem pembelajaran jarak jauh ini berkembang di berbagai negara? Yuk, kita telusuri kisahnya!
Tantangan dan Adaptasi di Berbagai Negara
Setiap negara memiliki caranya sendiri untuk beradaptasi dengan pembelajaran jarak jauh. Di Chili, pemerintah dengan sigap menggandeng universitas-universitas yang sudah berpengalaman dalam pendidikan daring. Langkah ini ternyata cukup berhasil karena universitas dapat langsung menerapkan sistem pembelajaran daring yang lebih terstruktur (Parker & López, 2020).
Namun, tidak semua negara seberuntung Chili. Ekuador menghadapi masalah besar: kesenjangan digital. Tidak semua mahasiswa memiliki akses internet yang stabil. Banyak di antara mereka yang kesulitan menggunakan platform pembelajaran digital (Castellano dkk., 2020).
Sementara itu, di Paraguay, kondisinya lebih sulit lagi. Dari 55 universitas, hanya 10 yang memiliki platform pembelajaran daring dan tenaga pengajar yang sudah terlatih dalam metode ini (Hoy, 2020). Bayangkan betapa repotnya mereka harus beradaptasi dalam waktu singkat!
Di Peru, masalahnya justru ada di ranah hukum. Sebelum pandemi, aturan di sana melarang universitas mengadakan kelas daring lebih dari 50%. Ketika pandemi datang, mereka pun harus berjuang melawan aturan lama demi keberlanjutan pendidikan (Figallo et al., 2020).
Pembelajaran Jarak Jauh: Suka atau Duka?
Meskipun awalnya banyak yang merasa kesulitan, ternyata tidak sedikit mahasiswa yang justru menikmati sistem pembelajaran daring ini. Berikut beberapa temuan menarik dari penelitian ini:
- Mahasiswa merasa puas dengan kelas daring: 73,1%
- Mahasiswa menganggap pengalaman ini cukup luar biasa: 50%
- Mahasiswa menganggap standar akademik tetap terjaga: 88,4%
- Mahasiswa memiliki tempat belajar yang memadai di rumah: 83,5%
- Mahasiswa merasa universitas memberikan dukungan yang cukup baik: 79%
- Mahasiswa merasa materi kuliah sudah cukup sesuai: 32,9%
Namun, di balik angka-angka positif ini, ada pula berbagai keluhan yang muncul:
- Mahasiswa mengalami stres atau kecemasan selama kelas daring: 68,15%
- Mahasiswa sering mengalami gangguan internet yang menghambat pembelajaran: 56%
- Mahasiswa merasa lebih mudah lelah (54,76%) dan bosan (34,03%).
- Mahasiswa merasa kesulitan menggunakan platform pembelajaran digital: 1,2%
Melihat data ini, jelas bahwa sistem pembelajaran daring bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal kesiapan mental dan emosional mahasiswa serta tenaga pengajar.
Pelajaran Berharga dari Pandemi
Pandemi boleh saja berlalu, tetapi pelajarannya tetap melekat. Dunia pendidikan kini menyadari bahwa pembelajaran daring bukan hanya solusi darurat, melainkan sebuah alternatif yang bisa diterapkan dalam situasi tertentu, seperti saat terjadi bencana alam atau wabah penyakit lainnya.
Seperti yang dikatakan Profesor Ana dari Chili, “Dulu, kami berpikir bahwa kuliah daring tidak bisa menggantikan kuliah luring. Sekarang, kami melihat bahwa dengan persiapan yang baik, pendidikan daring bisa menjadi bagian dari masa depan.”
Bahkan setelah pandemi berakhir, sebagian besar mahasiswa menyatakan bahwa mereka ingin tetap memiliki fleksibilitas dalam mengatur jadwal mereka (70,73%). Artinya, sistem hibrid—gabungan antara pembelajaran daring dan luring—mungkin akan menjadi model pendidikan pada masa depan.
Masa Depan Pembelajaran Jarak Jauh
Dari pengalaman pandemi, kita belajar bahwa kesiapan universitas dan dukungan dari pemerintah sangat menentukan keberhasilan pembelajaran jarak jauh. Jika negara seperti Chili bisa bergerak cepat dengan strategi yang tepat, tentu negara lain juga bisa melakukan hal yang sama dengan persiapan yang matang.
Jadi, apakah pembelajaran jarak jauh adalah masa depan pendidikan? Bisa jadi. Namun, satu hal yang pasti: fleksibilitas, kesiapan teknologi, dan dukungan emosional akan menjadi kunci utama dalam menciptakan sistem pendidikan yang lebih tangguh pada masa depan.
Bagaimana menurutmu? Apakah kamu lebih suka kuliah daring atau luring?



