Dua Jiwa yang Jatuh, Hanya Satu yang Kembali

SiarKota.Com | Kisah Hikayah—Kisah berikut merupakan adaptasi dari novel karya Salman Rushdie yang berjudul Ayat-Ayat Setan dalam bentuk cerita pendek.

Prolog

Pesawat itu meledak di ketinggian 29.000 kaki. Langit menganga, menelan tubuh-tubuh yang berjatuhan di antara serpihan besi dan api. Namun, di tengah-tengah itu ada dua pria melayang tanpa parasut, tanpa harapan.

Banari, seorang aktor asal Solo yang sering memerankan tokoh pahlawan dan dewa dalam film-film lokal, menutup matanya dan tertawa meskipun angin mencabik tubuhnya.

Salahi, orang Indonesia asli yang telah lama mencoba menjadi “orang Eropa sejati”, berteriak. Suaranya tenggelam dalam badai di ketinggian.

“Kita akan mati!” teriak Salahi.

“Tidak, kita sedang lahir kembali,” sahut Banari. Suaranya bergetar, antara kesadaran dan delusi. “Sebelum mendarat di bumi, seseorang harus terbang lebih dahulu.”

Mereka pun jatuh.

1

Mereka terdampar di pantai berbatu, di bawah langit kelabu. Ombak menjilati pasir, membawa aroma asin yang menusuk hidung.

Banari bangkit lebih dahulu. Tubuhnya terasa ringan, seolah angin menopangnya. Dia menatap cakrawala. Di sanalah dia mendengar sesuatu.

Sebuah bisikan.

“Banari…”

Dia tersentak. Suara itu terdengar jauh, dalam, seperti guruh sebelum badai.

“Bangkitlah, Banari. Kau telah dipilih.”

Di belakangnya, Salahi menggeliat, menggenggam pasir dengan tangan yang gemetar.

“Banari…,” suaranya serak. “Ada… sesuatu yang salah.”

Banari berbalik. Jantungnya terasa mau copot.

Telinga Salahi… memanjang. Matanya… menyala merah. Kakinya… berbelah seperti kuku kambing.

Dari keningnya, tanduk kecil mulai tumbuh.

Salahi mengangkat tangannya, menatap jari-jarinya yang kini berubah menjadi cakar hitam. “Apa yang terjadi padaku?”

Banari menatapnya, tubuhnya gemetar. “Aku… aku tak tahu.”

2

Malam turun. Mereka duduk di bawah bintang-bintang. Keheningan di antara mereka lebih pekat daripada gelapnya langit.

Salahi masih menatap bayangannya sendiri di air laut. “Aku tidak meminta ini.”

Banari menelan ludah, mendengar bisikan itu lagi. “Aku memilihmu, Banari.”

“Salahi,” katanya dengan suara ragu. “Mungkin… ini takdir kita.”

Salahi menoleh, matanya bersinar dalam kegelapan. “Takdir?” Dia mendengus. “Kau jatuh dan jadi malaikat, sedangkan aku jatuh dan jadi iblis? Apa itu adil?”

Banari menghela napas. “Mungkin kita bukan dipilih… mungkin kita hanya dicerminkan.”

“Cerminan dari apa?”

“Dari apa yang dunia lihat dalam diri kita.”

Ombak berdebur, menghapus jejak kaki mereka di pasir.

“Aku tidak mau menjadi iblis,” bisik Salahi akhirnya.

Banari menatapnya. Untuk pertama kalinya, ada ketakutan dalam matanya. “Aku tidak mau menjadi malaikat.”

3

Mereka berjalan ke kota. Langkah mereka terhuyung seperti orang yang baru lahir kembali ke dunia yang tidak mereka kenali.

Jakarta menyambut mereka dengan dingin.

Salahi mencoba mencari bantuan, tetapi setiap kali dia muncul di jalanan, orang-orang berteriak ketakutan.

“Iblis! Monster!”

Salahi berlari ke gang-gang gelap, bersembunyi di bayang-bayang. Jantungnya berdegup liar.

Di sisi lain, Banari melangkah dengan penuh percaya diri. Dunia memperlakukannya sebagai seorang suci.

“Lihat! Cahaya di wajahnya!” seru seseorang.

Orang-orang mulai mengikutinya, memercayainya. Beberapa bahkan berlutut di depannya. Mereka menyebutnya malaikat.

Namun, di dalam kepalanya, suara itu semakin keras.

“Kau adalah utusan, Banari. Kau harus menyampaikan wahyu.”

Dia mulai melihat bayangan. Kota pasir, seorang nabi yang menerima wahyu. Mungkinkah dia benar-benar mendengar suara Tuhan?

Atau…

Apakah dia sedang kehilangan akal?

4

Sementara itu, Salahi terperangkap dalam tubuh iblisnya. Dia jatuh sakit. Tubuhnya membusuk di gang-gang belakang kota yang menolak keberadaannya.

Namun, perlahan-lahan dia mulai berubah kembali.

Kulitnya yang bersisik mulai halus. Matanya yang memutih semua kembali menampakkan bulatan hitam. Tanduk di kepalanya mengecil dan menghilang.

Sampai akhirnya, dia melihat bayangannya di jendela toko—dia kembali menjadi manusia.

Dia menangis.

Bukan karena kegembiraan, tetapi karena dunia hanya mengizinkannya menjadi manusia kembali setelah dia menerima siapa dirinya.

5

Banari tidak seberuntung itu.

Visi di kepalanya semakin kuat. Dia melihat Tuhan, melihat nabi, mendengar ayat-ayat yang dikutuk.

Dia mulai percaya bahwa dia memang malaikat.

Seperti semua malaikat yang pernah jatuh, dia menjadi haus akan kekuasaan.

Dia ingin menegakkan keadilan, ingin menyampaikan wahyu, dan ingin menghancurkan iblis.

Dia tahu di mana iblis itu berada.

6

Mereka bertemu di sebuah jembatan, di tengah malam.

Banari berdiri di ujung jembatan. Tubuhnya gemetar. Matanya merah. Pistol ada di genggamannya.

Salahi berdiri di hadapan Banari. Tangan kosongnya. Tubuhnya lelah.

“Aku harus mengakhirinya,” kata Banari, suaranya berat. “Demi Tuhan.”

Salahi menatapnya lama. “Demi Tuhan? Atau demi dirimu sendiri?”

Banari menggeram. “Aku adalah malaikat yang membawakan wahyu dan menghapus kejahatan.”

Salahi tersenyum kecil. “Kau pikir aku iblis? Kau pikir aku kejahatan?”

Banari mengangkat pistol. Jari telunjuknya berada di pelatuk.

Salahi tidak berkedip.

“Kalau aku iblis, kenapa aku kembali seperti manusia?” tanya Salahi.

Banari terdiam.

“Aku tidak pernah menjadi setan. Hanya dunia yang ingin aku menjadi demikian,” ujar Salahi pelan.

Suatu kesadaran datang menghantam Banari. Dia melihat refleksinya sendiri—mata penuh kegilaan, tangan berlumuran dosa.

Dia bukan malaikat, bukan pembawa wahyu, hanya seorang manusia.

Tangannya gemetar. Pistolnya jatuh di atas batu-batu jembatan.

Dalam keheningan malam, Banari menundukkan kepala. Tubuhnya jatuh berlutut. Untuk pertama kalinya, dia mendengar sunyi.

Di bawah langit yang sama, Salahi melangkah pergi.

Dunia akhirnya menerimanya, atau mungkin, dia yang akhirnya menerima dirinya sendiri.

Epilog

Pada pagi yang dingin, Banari ditemukan tewas di jembatan, di bawah langit yang masih kelabu.

Di tempat lain, Salahi membuka matanya, melihat matahari pertama dalam hidupnya yang baru.

Keduanya jatuh dari langit, tetapi hanya satu yang berhasil kembali ke bumi.

IKLAN BAWAH

spot_img

SIAR IKLAN

Layanan IklanPresiden Suharto

SIAR TERKENAL

SIAR TERKAIT