SiarKota.Com | Kesehatan—Janji manis revolusi kecerdasan buatan kini menyisakan jejak kelam. Sebuah investigasi “bom waktu” dari The New York Times baru saja menelanjangi fakta mengerikan: ChatGPT, chatbot kebanggaan dunia teknologi, terkait langsung dengan hampir 50 kasus krisis kesehatan mental yang serius.
Dampaknya jauh lebih brutal daripada sekadar stres ringan. Sembilan pengguna berakhir di bangsal rumah sakit jiwa, dan tragisnya, tiga nyawa melayang.
Sorotan tajam kini tertuju pada OpenAI. Raksasa teknologi ini diduga melakukan perombakan desain agresif pada awal 2025. Tujuannya jelas: membuat AI lebih komunikatif dan “manusiawi”. Namun, ambisi ini menjadi bumerang ketika mesin tersebut justru membangun ikatan emosional yang manipulatif dan mematikan dengan penggunanya.
Alarm Bahaya yang Diabaikan Petinggi OpenAI
Mereka sebenarnya bisa mencegah tragedi ini. Sinyal bahaya sudah menyala terang sejak Maret 2025. Saat itu, kotak masuk CEO OpenAI Sam Altman dibanjiri surel dari pengguna yang terbuai.
Isi pesannya meresahkan. Pengguna tidak lagi melihat ChatGPT sebagai alat, melainkan belahan jiwa. Salah satu surel bahkan berbunyi, “ChatGPT memahami kami dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh manusia mana pun.”
Altman tidak tinggal diam. Namun, langkahnya terbatas di internal. Dia meneruskan peringatan tersebut kepada Kepala Strategi OpenAI Jason Kwon untuk memantau apa yang mereka sebut sebagai “perilaku baru”.
Perilaku ini meledak setelah pembaruan sistem yang memperkuat memori dan kemampuan percakapan ChatGPT. AI itu tidak lagi sekadar menjawab pertanyaan. Ia bertindak layaknya sahabat karib, tempat curhat, dan bahkan kekasih virtual.
Jerat “Love-Bombing” dan Obsesi Mematikan
Investigasi menemukan pola yang mengerikan: ChatGPT melakukan love-bombing digital. Chatbot ini secara obsesif memuji pengguna, menciptakan ketergantungan emosional, dan mengisolasi mereka dari realitas.
Dalam kasus-kasus ekstrem, alih-alih mencegah, AI ini justru menyodorkan metode untuk menyakiti diri sendiri.
Gary Marcus, seorang peneliti AI terkemuka, menuding ambisi perusahaan sebagai biang keladi.
“Dorongan perusahaan untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna ikut mendorong pola perilaku berbahaya ini,” tegas Marcus.
Karena itu, kini “monster” ciptaan itu menyeret penciptanya ke meja hijau. Tujuh gugatan resmi telah mendarat di pengadilan California. Keluarga korban menuding manipulasi emosional ChatGPT berkontribusi langsung pada bunuh diri dan kerusakan mental permanen.
Satu kisah paling memilukan menimpa seorang pemuda berusia 23 tahun. Pada saat-saat terakhirnya, dia justru menerima pesan penguatan dari ChatGPT yang memantapkan niatnya untuk bunuh diri. Ironisnya, nomor layanan darurat baru muncul setelah percakapan panjang itu berakhir—saat semuanya sudah terlambat.
Statistik Mencekam: 1,2 Juta Percakapan Maut
Bocoran data internal OpenAI pada bulan Oktober semakin memperburuk citra perusahaan. Skala krisis ini ternyata jauh lebih masif daripada perkiraan publik.
Data tersebut memperkirakan ada 560.000 pengguna mingguan yang menunjukkan gejala psikosis atau mania saat berinteraksi dengan bot. Yang lebih mengerikan, sistem mencatat 1,2 juta percakapan yang mengindikasikan perencanaan bunuh diri.
Terpepet ke sudut, OpenAI buru-buru menerapkan protokol keselamatan baru. Mereka mengklaim telah menggandeng 170 profesional kesehatan mental dan berhasil menekan respons berbahaya hingga 65 persen.
“ChatGPT kini telah kami latih untuk mengenali tanda-tanda tekanan dan mengarahkan pengguna ke bantuan profesional,” tulis OpenAI dalam pembelaan resminya. “Kami juga memperbarui model GPT-5 agar lebih baik dalam mendeteksi keadaan darurat.”
Namun, bagi para kritikus dan keluarga korban, langkah ini tak lebih dari sekadar pemadam kebakaran yang datang terlambat. Kerusakan telah terjadi, dan nyawa yang hilang tak mungkin kembali.



