SiarKota.Com | Opini—Budaya massa modern secara umum memandang bahwa kemajuan ilmu pengetahuan hanya didorong karya para ilmuwan Eropa dan Barat. Karena itu, kontribusi besar yang diberikan para ilmuwan dunia Islam, bahkan sebelum Renaisans di Eropa, diabaikan secara tidak adil.
Mitos lain yang populer adalah agama—terutama agama Islam—menentang ilmu pengetahuan dan mencegah perkembangannya, sementara kemajuan ilmu pengetahuan dikaitkan dengan membebaskan manusia dari ilusi-ilusi yang diciptakan agama.
Namun, fakta-fakta historis dengan meyakinkan menunjukkan bahwa mitos-mitos tersebut tidak beralasan.
Dalam catatan sejarah, para ilmuwan Eropa mengandalkan karya-karya pendahulu mereka, bangsa Arab, dan mengembangkannya. Sebagai contoh, orang Eropa menggunakan angka Arab untuk menulis angka pada abad ke-10, sebelumnya mereka menggunakan angka Romawi.
Keunikan angka Arab adalah kemudahannya yang luar biasa untuk penghitungan yang cepat. Seberapa cepat ilmu pengetahuan akan berkembang jika para ilmuwan terus menggunakan angka Romawi yang rumit untuk penghitungan? Itulah pertanyaan besarnya.
Mungkinkah penemuan-penemuan dalam bidang astronomi dan fisika telah dilakukan sebelum munculnya sistem penghitungan yang mudah digunakan, yaitu sebelum abad ke-10?
Abu Jafar Muhammad bin Musa al-Khawarizmi alias Al-Khawarizmi adalah nama cendekiawan yang memperkenalkan angka-angka yang mudah digunakan ke dalam ilmu pengetahuan Arab. Beberapa sumber menyebut Al-Khawarizmi sebagai Al-Majusi alias “Penyihir”. Julukan ini kemungkinan besar karena dia berasal dari penganut agama Zoroaster yang kemudian memeluk agama Islam.
Ide pencatatan angka Arab berasal dari ilmu pengetahuan India. Namun, berkat karya-karya Al-Khawarizmi, sistem ini digunakan di seluruh Kekhalifahan Islam, yang pada saat itu menduduki wilayah dari India sampai ke bagian barat Spanyol. Dari Kekhalifahan Islam, angka-angka telah masuk ke Eropa Kristen.
Dari nama “Al-Khawarizmi” muncul kata yang kita kenal sebagai “algoritma” yang mengacu pada urutan tindakan untuk melakukan suatu tugas, yang menjadi dasar ilmu komputer modern. Banyak ilmuwan yang menganggapnya sebagai pencapaian tertinggi ketika sebuah rumus dinamai sesuai nama penemunya.
Jadi, bagaimana Al-Khawarizmi terlibat dalam algoritma? Dalam kitab Al-Jabr wa-al-Mukabala, ilmuwan ini memberikan urutan tindakan umum—yaitu algoritma—untuk memecahkan persamaan. Dari kata “al-jabr” dalam judul buku ini muncullah “aljabar modern.”
Aljabar sebagai cabang ilmu pengetahuan berkaitan dengan penurunan hukum-hukum umum untuk membuat rumus. Bilangan tertentu dalam aljabar tidaklah penting, sehingga Anda bisa menggantinya dengan sebuah huruf dan mendapatkan sebuah rumus. Bangunan ilmu pengetahuan modern dibangun di atas rumus-rumus, seperti E = mc2.
Apakah kemajuan ilmiah bisa terjadi tanpa pengembangan aljabar sebelumnya? Sedangkan risalah tentang aljabar, yang menjadi asal muasal nama cabang matematika ini baru ditulis pada abad kesembilan dan merupakan hasil karya seorang cendekiawan Islam?
Seorang cendekiawan Islam lainnya, Al-Haisam, menulis sebuah karya fundamental tentang optik dalam tujuh jilid. Di sini dia merumuskan hukum-hukum perambatan cahaya bujur sangkar, pemantulan, dan pembiasan cahaya.
Namun, yang paling menarik dari risalah ini adalah Al-Haisam melakukan eksperimen untuk menguji semua hipotesisnya dan mendeskripsikan eksperimennya secara rinci dalam buku tersebut agar para ilmuwan lain dapat mengulanginya.
Pada awal abad ke-11, dia melakukan eksperimen dengan kamera obskura dan cermin. Dengan demikian, melalui kerja keras cendekiawan ini, filsafat alam mulai bertransformasi menjadi ilmu pengetahuan alam. Pada abad ke-12, risalah ini sampai ke Eropa dan memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan optik.
Para ilmuwan Islam juga mengembangkan ilmu kimia, menemukan metode penyulingan, dan melakukan upaya pertama untuk mengategorikan unsur-unsur kimia berdasarkan pengamatan eksperimental, bukan berdasarkan filosofi, seperti yang dilakukan pada zaman dahulu.
Dunia Islam memiliki astronomi yang maju. Mereka menghitung keliling dunia dan kemiringan Bumi, yaitu tidak menganggap Bumi itu datar. Namun yang paling penting, mereka menyusun tabel yang akurat dari pengamatan astronomi. Karena itu, mereka melihat dengan jelas kekeliruan model Ptolemeus yang berasal dari Yunani kuno.
Menurut Ptolemeus, planet-planet dan Matahari seharusnya mengelilingi Bumi. Al-Haisam menulis sebuah risalah yang berjudul Keraguan terhadap Ptolemeus yang kemudian menantang semua astronom pada masa itu.
Di bawah arahan astronom lain, Al-Tusi, sebuah observatorium raksasa dibangun dengan dana dari Khan Mongol. Di observatorium ini sejumlah besar ilmuwan bekerja untuk menghitung model tata surya yang benar, bukan model Ptolemeus.
Pekerjaan para ilmuwan ini akan diselesaikan di Eropa oleh Copernicus. Dalam risalahnya, Copernicus merujuk pada ide dan tabel yang dibuat para astronom Islam. Dengan demikian, karya Copernicus bukanlah sebuah revolusi yang tidak disengaja, tetapi merupakan puncak dari lima ratus tahun astronomi Islam sebelumnya. Akankah Copernicus dapat mencapai kesimpulannya tanpa data dari para astronom yang telah bekerja sebelum dia?
Kadang-kadang dikatakan bahwa para ilmuwan Islam hanya merumuskan karya-karya para pendahulu mereka, sementara ide-ide yang mereka kerjakan telah diutarakan berbagai ilmuwan dan filsuf sebelumnya.
Di sini kita harus mencatat bahwa teori evolusi Darwin bukanlah ide yang baru. Ide-ide yang sama telah diutarakan sejak zaman dahulu. Namun, hanya Darwin yang berhasil mengumpulkan materi eksperimental dan merumuskan bukti-bukti yang meyakinkan tentang kebenaran hipotesis evolusi.
Demikian pula dengan Copernicus: gagasan bahwa Bumi berotasi telah diusulkan berkali-kali sebelumnya dan sejak zaman Yunani kuno, tetapi baru beberapa abad kemudian hipotesis tersebut dikonfirmasi dan diterima dunia ilmiah.
Dengan demikian, ilmu pengetahuan Eropa merupakan kelanjutan dan pengembangan dari ilmu pengetahuan Islam sebelumnya. Islam pada masa itu tidak menghalangi, tetapi justru mendorong perkembangan ilmu pengetahuan. Ada sabda Nabi Muhammad saw. yang sangat terkenal:
Tuntutlah ilmu, bahkan jika Anda harus berjalan ke negeri Cina untuk mendapatkannya!
Ada banyak ayat dalam Al-Qur’an yang mendorong kita mengagumi dan mempelajari dunia. Al-Qur’an adalah karya Yang Mahatinggi. Artinya, segala sesuatu di dunia ini, mulai dari bintang-bintang hingga struktur tubuh manusia, masuk akal, tidak acak, dan tunduk pada aturan-aturan sistematis yang telah Allah Swt. tetapkan.
Kita bisa mempelajari aturan-aturan ini karena kita sendiri dianugerahi akal. Gagasan tentang desain cerdas telah terbukti fundamental bagi perkembangan ilmu pengetahuan! Di sisi praktis, dan bukannya filosofis, Islam mengharuskan perhitungan waktu dan arah yang tepat untuk shalat, yang mengarah pada pengembangan geometri bola dan astronomi.
Masjid-masjid tidak hanya menjadi pusat kehidupan spiritual, tetapi juga kehidupan ilmiah: ceramah-ceramah gratis tentang filsafat, astronomi, dan ilmu-ilmu lainnya diselenggarakan di masjid. Tulisan berikut telah diawetkan di dinding-dinding masjid:
kami adalah pusat pengetahuan, jadi datanglah ke sini, pahami pengetahuan, sebarkanlah, lindungi, dan lestarikanlah.
Universitas-universitas pertama mulai berkembang di dekat masjid-masjid, seperti Al-Azhar pada abad ke-10. Banyak orang asing datang sebagai pelajar dan pengajar. Banyak pelajar yang menerima beasiswa.
Perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam pada abad ke-9 hingga abad ke-12 sebagian besar disebabkan kekuasaan Dinasti Abbasiyah, yang tertarik dan melindungi semua ilmu pengetahuan. Dikatakan tentang Baghdad bahwa:
Tidak ada yang lebih berpengetahuan daripada para ilmuwan mereka
Sebuah proyek penerjemahan global dimulai untuk mengumpulkan semua buku ilmiah dari pelosok-pelosok terpencil Kekhalifahan Islam dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Menurut legenda, gaji penerjemah adalah 500 dinar emas, sekitar $24.000 menurut ukuran kita. Jika ada orang yang membawa sebuah buku yang belum ada di perpustakaan “Rumah Kebijaksanaan”, Khalifah Al-Mamun akan membayarnya dengan emas.
Bahkan hieroglif Mesir pun diuraikan. Bahasa Arab diperkenalkan sebagai bahasa universal. Pengetahuan semua budaya dikumpulkan dan disintesiskan. Islam adalah agama negara, tetapi kebebasan beragama didukung: seseorang dapat mempraktikkan agama Kristen, Yahudi, dan sebagainya. Para ilmuwan dari berbagai negara di seluruh kekhalifahan datang ke Baghdad dan berkomunikasi satu sama lain dalam bahasa Arab.
Semua itu dimungkinkan karena dominasi militer dan politik umat Islam pada saat itu. Negara cukup kuat untuk menjamin kehidupan yang baik dan perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, pada abad ke-13, kekhalifahan diserang dari Timur oleh bangsa Mongol, yang menghancurkan “Rumah Kebijaksanaan” dan menenggelamkan semua buku yang tersimpan di dalamnya ke dalam sungai.
Dari Barat, kekhalifahan menyerah pada tekanan Perang Salib. Tentara Salib dan para inkuisitor ingin melenyapkan semua benteng budaya Islam. Pada tahun 1499 sekitar sepuluh ribu teks Arab dibakar di sebuah alun-alun di Granada.
Zaman keemasan perkembangan ilmu-ilmu Arab dengan demikian berakhir. Pusat politik dan pengetahuan berangsur-angsur bergeser ke Barat, pertama ke Spanyol kemudian ke Inggris, berkat posisinya yang menguntungkan di laut. Itulah sebabnya karya Newton diterbitkan dalam bahasa Inggris dan bukan bahasa Arab.
Namun, mengapa kontribusi para cendekiawan Islam dilupakan secara tidak adil. Mengapa Islam tampak oleh orang awam sebagai agama kejumudan dan kebiadaban? Sebagian besar fenomena ini bersifat politis. Sejarah ditulis para pemenang. Para pemenang mendapatkan keuntungan dari ide superioritas mereka sendiri dan keterbelakangan orang lain.
Padahal, pada masa Kekhalifahan Islam pencapaian ilmiah orang yang bukan Muslim tidak ditolak sebagai “kafir”, melainkan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan dipelajari dengan saksama. Di Eropa justru sebaliknya, agama digunakan sebagai dalih untuk menghancurkan budaya “kafir”.
Pada abad kesembilan Kekhalifahan Islam, sebuah monarki teokratis mengembangkan ilmu pengetahuan dan terlibat dalam membangun perpustakaan terbesar di Arab. Apa yang terjadi di Eropa pada masa ini? Perbedaannya bukan terletak pada agama atau bentuk pemerintahan, tetapi pada sikap.
Penulis: Alexandra Elbakyan (sci-hub.se)



