SiarKota.Com | Saintek—Jangan buru-buru merasa manusia adalah makhluk paling spesial di muka bumi. Sebuah riset terbaru menampar ego kita dengan fakta keras. Ternyata, cara kerja otak manusia tidak jauh berbeda dengan mesin.
Selama ini, kita mengira Kecerdasan Buatan (AI) yang mati-matian meniru manusia. Namun, pemrosesan bahasa di kepala kita justru berjalan dengan mekanisme yang identik dengan algoritma komputer.
Dr. Ariel Goldstein dari Hebrew University bersama tim Google Research dan Princeton University mengungkap fakta tersebut lewat studi kolaboratif mereka. Para peneliti ini tidak sekadar berteori, melainkan membuktikannya secara langsung lewat rekaman aktivitas otak yang nyata.
Mekanisme Otak “Jiplak” Arsitektur AI
Tim peneliti memindai otak peserta saat mereka mendengarkan podcast selama 30 menit. Hasilnya sungguh mencengangkan. Otak kita memproses informasi secara bertingkat, persis seperti arsitektur Large Language Model (LLM) semacam GPT-2 atau Llama 2.
Tidak ada keajaiban mistis di sana. Lapisan awal otak menangkap suara sederhana. Selanjutnya, lapisan yang lebih dalam bekerja keras menyatukan konteks dan makna.
Temuan ini meruntuhkan pandangan klasik linguistik. Pasalnya, aturan baku bahasa ternyata tidak berlaku mutlak. Sebaliknya, otak bekerja berdasarkan prediksi kontekstual yang dinamis. Hal ini sama persis seperti cara chatbot menebak kata berikutnya.
Mulut Kita Mulai Disusupi Bahasa Robot
Selain itu, bagian ini jauh lebih mengerikan. AI tidak hanya mirip dengan otak kita, tetapi pelan-pelan mulai “menjajah” cara kita bicara. Peneliti menamai fenomena ini sebagai “Lexical Seepage” atau rembesan leksikal.
Ahli linguistik Tom Juzek dari Florida State University membongkar data dari 22 juta kata dalam rekaman percakapan manusia. Hasilnya? Kita mulai bicara seperti robot tanpa sadar.
Sejak ChatGPT meledak pada 2022, kata-kata kaku yang sering dipakai mesin tiba-tiba melonjak drastis dalam percakapan sehari-hari manusia. Sebagai contoh, kata-kata yang mengalami lonjakan tersebut antara lain:
- “Delve” (menelaah)
- “Meticulous” (teliti/saksama)
- “Garner” (memperoleh)
- “Boast” (membanggakan)
Ini bukan tren gaul biasa. Bahkan, ini adalah infiltrasi algoritma ke dalam budaya tutur manusia. Oleh karena itu, apabila kita membiarkannya, keragaman dialek dan gaya bicara alami manusia bisa punah. Akibatnya, gaya bicara mesin yang seragam dan membosankan akan menggantikannya.
Sains Makin Agresif dengan NOBLE
Sementara itu, para ilmuwan tidak mau kalah cepat. Peneliti dari Caltech dan Cedars-Sinai baru saja memperkenalkan NOBLE dalam konferensi NeurIPS di San Diego.
NOBLE adalah kerangka kerja super cepat untuk memodelkan neuron otak. Alat ini bekerja 4.200 kali lebih cepat dibanding metode lama. Tujuannya sangat jelas, yaitu membedah rahasia otak sampai ke akar-akarnya.
Dengan adanya teknologi ini, batas antara biologi dan teknologi makin kabur. Pertanyaannya sekarang bukan lagi “apakah AI bisa berpikir seperti manusia”. Melainkan, “apakah kita yang perlahan berubah menjadi sekadar mesin biologis?”
Fakta-fakta ini menjadi peringatan keras. Di tengah gempuran teknologi, mempertahankan “sisi manusiawi” dalam berpikir dan berkata-kata kini menjadi tantangan terberat kita.



