Bambang Erbata Bergerak dalam Senyap Memanusiakan Manusia

SiarKota.Com | Tokoh—Indonesia sedang berisik. Isinya keluhan dan amarah. Namun, di sudut yang senyap, harapan itu sebenarnya masih bernapas. Ada segelintir manusia yang memilih menutup mulut dan menggerakkan tangan.

Mereka tidak berdemo. Mereka bekerja dengan kreativitas, otak, dan teknologi.

Saya menemukan satu anomali itu pada Jumat pagi, 19 Desember 2025. Lokasinya di sebuah kafe di Cipete Selatan.

Hujan menghajar bumi pagi itu. Namun, teras kafe terasa hangat. Segelas teh jahe sereh mengepul, menjadi saksi obrolan kami.

Seorang pria berusia 55 tahun duduk santai di sana. Dia bukan orang sembarangan.

“Panggilannya James Bond, tetapi orang-orang lebih sering memanggil saya Bata,” tembaknya langsung.

Namanya Bambang Erbata Kalingga.

Catat latar belakangnya: alumnus SMAN 70 Bulungan angkatan ’89 dan jebolan Politeknik Mekanik Swiss-ITB (sekarang POLMAN).

Bukan Sekadar Tukang Insinyur

Penampilannya bersahaja, tetapi otaknya penuh perhitungan teknis. Markasnya di Tangerang Selatan punya nama mentereng: Bengkel Buaran Machinen Werk.

“Dulu saya memang suka mengulik,” katanya merendah.

Jangan tertipu istilah “mengulik”. Karyanya liar. Dia menciptakan pompa air hemat bahan bakar berbasis teori Archimedes. Alat ini menampar kesulitan petani di pelosok yang selama ini berebut air.

Dia juga pernah bikin geger. Bata memodifikasi motor berbahan bakar campuran air dan bensin. Gila? Mungkin, tetapi inovatif.

Negara akhirnya melek. Bata terpilih menjadi satu dari 21 tokoh penerima anugerah Telkomsel sebagai sosok inspiratif pada 2016.

Namun, bengkel terasa terlalu sempit bagi jiwanya. Sebelum 2018, dia berkelana. Kakinya menjajaki Sumatera Utara hingga Kalimantan Timur.

“Saya keliling mengedukasi petani,” tegasnya. “Tujuannya biar mereka bisa menghasilkan pangan sehat lewat pertanian organik. Sistem SRI (system of rice intensification) membuat mereka lebih produktif.”

Tamparan Keras di Rumah Sakit

Obrolan kami menukik tajam ke topik yang lebih getir. Wajah Bata mengeras saat mengingat tahun 2018.

Dia sedang mendonorkan darah di RS Fatmawati saat itu. Matanya menangkap pemandangan ganjil: kerumunan ibu-ibu berdiri cemas di depan pintu Unit Transfusi Darah (UTD).

“Saya terkejut. Mengapa ibu-ibu tersebut harus berdiri di depan pintu masuk?” tanyanya dalam hati.

Rasa penasaran membawanya mencari jawaban. Fakta yang dia temukan menghantam ulu hati.

“Ternyata, anak mereka mengidap talasemia dan membutuhkan darah setiap dua minggu sekali,” ucap Bata pelan namun menekan.

“Jika terlambat, nyawa menjadi taruhannya.”

Realitas itu mengubah segalanya. Bata sadar, mesin canggih tidak ada gunanya jika nyawa manusia melayang sia-sia karena birokrasi atau kemiskinan.

Melawan Logika Pasar

Simpati saja tidak cukup. Bata mendirikan wadah sosial Tirto Persada Nuswantoro.

Dia membidik masalah yang sering luput: penderita talasemia sulit mendapat kerja. Fisik mereka yang mudah lelah membuat perusahaan membuang lamaran mereka.

“Mereka adalah orang-orang yang kalah karena disingkirkan standar orang normal,” sergah Bata.

Dia mengambil langkah nekat. Bata membuka lahan pertanian dan perikanan di Desa Cibeber, Bogor. Isinya bukan pekerja otot kawat, melainkan mereka yang tersingkir itu.

“Saya ingin memanusiakan manusia. Saya ingin melihat mereka tersenyum kembali,” ujarnya.

Bata membuang kalkulator untung-rugi. Dia menabrak tembok kapitalisme.

“Perusahaan saya tidak berorientasi pada keuntungan,” tantangnya.

“Jika pekerja normal mampu menghasilkan sepuluh, sedangkan mereka hanya menghasilkan satu atau dua, saya tidak mempermasalahkannya. Rezeki ada di tangan Tuhan, bukan di tangan manusia.”

Prinsip “Rusak Rapopo”

Kegilaan sosialnya makin menjadi. Dia membuka “Bank Alat Kesehatan” gratis di Cilandak, Serpong, dan Ciampea. Stoknya lengkap, dari tabung oksigen sampai kursi roda.

Ambisi sosialnya tidak berhenti. Dia kini bersiap membangun rumah singgah di Desa Pabangbon, Bogor.

Saat saya tanya soal jaminan sewa alat, dia malah tertawa renyah.

“Gratis. Bahkan bila alat itu rusak, rapopo (tidak apa-apa),” jawabnya enteng.

“Mohon maaf, kami juga punya keterbatasan, tetapi kami akan usahakan secepatnya,” tambahnya.

Di sela kesibukan itu, dia masih melayani terapi kesehatan. Namun, dia punya satu syarat mutlak: haram hukumnya bagi klenik.

“Saya memerangi hal-hal negatif. Jika seseorang menggunakan jimat, artinya dia tidak menghargai kehidupan,” pungkasnya tajam.


Hujan di Cipete mereda. Sosok Bambang “James Bond” Erbata adalah bukti hidup dari kutipan Pramoedya Ananta Toer:

“Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusiaan, dia tetap terhormat sepanjang zaman, bukan kehormatan sementara.”

Bata memilih jalan sunyi itu. Jalan terjal untuk memanusiakan manusia, tanpa peduli tepuk tangan dunia.

IKLAN BAWAH

spot_img

SIAR IKLAN

Layanan IklanPresiden Suharto

SIAR TERKENAL

SIAR TERKAIT