SiarKota.Com | Kesehatan—Himpunan Mahasiswa Kedokteran Hewan (Himakaha) Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin menyelenggarakan seminar program kerja PPK Ormawa. Mereka melaksanakan kegiatan tersebut di Kantor Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kale Marewa, Desa Popo, Kabupaten Takalar, pada Rabu (01/07/2026). Seminar tersebut menandai awal kolaborasi antara tim mahasiswa dan masyarakat desa dalam pelaksanaan pengabdian tahun ini.
Dalam acara tersebut, tim mahasiswa memaparkan program OCEANS (One Health Coastal Environment and Nutrition Sustainability). Program cegah stunting ini menjadi strategi desa sehat untuk menekan risiko gizi buruk di Desa Popo. Berdasarkan data posyandu setempat, desa tersebut mencatat 25 kasus stunting dari total 228 balita. Angka tersebut setara dengan 10,96 persen dari keseluruhan balita.
Kondisi Lingkungan dan Kualitas Air
Dosen pendamping, drh. Muhammad Ardiansyah Nurdin, M.Si., menjelaskan alasan pemilihan desa tersebut sebagai lokasi pengabdian. Beliau menyebutkan bahwa warga setempat menghadapi keterbatasan air bersih. Di samping itu, tingkat penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) masih tergolong rendah. Pemanfaatan pangan lokal oleh warga juga belum berjalan secara optimal.
Selanjutnya, hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa kualitas air pada sejumlah dusun berada jauh di atas ambang batas layak konsumsi. Sebagai contoh, air di Dusun Kunjung Mange tercatat memiliki kandungan zat terlarut sebesar 656 ppm. Sementara itu, kawasan BUMDes mencatat angka 548 ppm. Dari total enam dusun, hanya Dusun Terang-terang yang memenuhi standar kesehatan dengan tingkat kandungan 129 ppm.
“Seluruh program kami rancang agar masyarakat menjadi pelaku utama, mulai dari pengelolaan air bersih hingga pembentukan kader yang melanjutkan program setelah kami selesai,” ujar drh. Ardiansyah.
Tiga Inisiatif Utama Program OCEANS
Sebagai solusi, program OCEANS terbagi menjadi tiga inisiatif utama yang saling berkaitan. Pertama, inisiatif ASRI fokus pada pembangunan dan pelatihan sistem penyaringan air berbasis komunal. Kedua, inisiatif SIPADIA berpusat pada edukasi penerapan PHBS dan pemenuhan gizi seimbang bagi ibu serta remaja putri. Ketiga, inisiatif SIPASTI berupaya mengoptimalkan budi daya ikan nila melalui metode bioflok, serta pemanfaatan kelor dan tanaman obat keluarga.
Melalui ketiga inisiatif tersebut, tim mahasiswa menetapkan target kinerja yang terukur. Mereka menargetkan 40 rumah tangga sasaran mengalami peningkatan akses air bersih dari 45 persen menjadi 70 persen. Selain itu, mereka berharap tingkat penerapan PHBS meningkat dari 55 persen menjadi 80 persen dalam kurun waktu empat bulan pelaksanaan.
Dukungan Desa dan Pembentukan Kader
Untuk menjaga keberlanjutan program, tim mahasiswa akan membentuk kader kesehatan desa yang bernama Kelompok MORINGAI. Kelompok tersebut terbentuk secara resmi melalui Surat Keputusan Kepala Desa. Nantinya, para kader akan meneruskan berbagai program kesehatan tersebut setelah masa pengabdian mahasiswa berakhir.
Seminar peluncuran program ini mendapat sambutan positif dari berbagai elemen masyarakat. Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, bintara pembina desa (babinsa), dan kader kesehatan. Anggota Posyandu, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), serta Karang Taruna juga turut hadir memberikan dukungan. Imam Desa Popo, Dg Tarra, mewakili Kepala Desa untuk menyatakan kesiapan penuh dari pihak pemerintah desa.
“Pemerintah desa siap bersinergi dan mendukung setiap program yang akan terlaksana demi kemajuan Desa Popo,” ujar Dg Tarra.
Sebagai langkah berikutnya, tim mahasiswa akan segera memulai pelaksanaan program di lapangan. Kegiatan awal mereka mencakup pembangunan sistem penyaringan air bagi warga serta peresmian Kelompok MORINGAI secara serentak.



