Misteri Potongan Kue dan Jembatan yang Hilang di Laut Kita

SiarKota.Com | Saintek—Mari kita mundur sejenak ke tahun 1917. Di Austria, seorang matematikawan bernama Johann Radon sedang bergulat dengan sebuah pertanyaan yang terdengar sangat iseng dan kurang kerjaan.

Dia bertanya: “Jika saya memotong kue dan tahu luas setiap potongannya, bisakah saya mengetahui bentuk utuh kue itu tanpa melihatnya?”

Padahal, bagi orang awam yang sedang lapar, pertanyaan ini mungkin terdengar konyol. Buat apa menghitung luas potongan kue? Mengapa kita tidak langsung memakannya saja? Logika pragmatis kita sering kali menolak hal-hal yang tidak langsung “mengenyangkan” perut.

Namun, sejarah membuktikan bahwa imajinasi liar Radon bukanlah lamunan kosong.

Empat puluh tujuh tahun kemudian, tepatnya pada 1964, seorang fisikawan bernama Allan Cormack menemukan jawaban atas teka-teki itu. Ternyata, logika “potongan kue” Radon adalah kunci untuk melihat ke dalam tubuh manusia tanpa perlu membedahnya. Jika “kue” itu adalah otak manusia dan “potongan” itu adalah sinar X-ray, kita bisa menemukan lokasi tumor dengan presisi.

Siapa sangka, dari pertanyaan iseng soal kue itu akhirnya melahirkan CT Scan yang kini menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia.

Keajaiban Itu Bernama Riset

Inilah kekuatan dari “Jembatan” yang sering kita lupakan, yaitu: Riset.

Karena itu, Prof. Stella Christie menegaskan kembali hal ini dalam kuliah umumnya di acara Pesta Rakyat gelaran PT HM Sampoerna Tbk di Jakarta pada tahun 2025. Beliau mengingatkan kita bahwa kemajuan bangsa tidak terjadi secara simsalabim. Kemajuan membutuhkan proses panjang yang menghubungkan imajinasi di langit dan kebutuhan nyata di bumi.

Sebagai bukti, lihatlah Google. Raksasa teknologi yang kita pakai setiap detik itu tidak lahir dari ruang rapat direksi yang mewah. Ia lahir dari perpustakaan kampus, dari sebuah skripsi atau disertasi S-3 milik Larry Page dan Sergey Brin di Universitas Stanford.

Awalnya hanya tulisan ilmiah, kini Universitas Stanford sendirian menyumbang 18% dari total ekonomi Amerika Serikat. Nilainya mencapai Rp44.000 triliun per tahun. Bayangkan, satu kampus bisa menghidupi ekonomi negara adidaya!

Harta Karun yang Menunggu Disentuh

Lantas, bagaimana dengan kita di Indonesia?

Kita berdiri di atas tanah surga. Bumi pertiwi ini penuh dengan kekayaan. Kita punya garis pantai terpanjang kedua di dunia. Di sana, terhampar rumput laut yang melimpah ruah.

Sayangnya, selama ini kita mungkin hanya melihat rumput laut sebagai bahan es campur atau agar-agar. Kita menjualnya dengan harga murah, lalu merasa cukup. Padahal, imajinasi kita ingin Indonesia menjadi negara kaya dan maju.

Di sinilah kita kehilangan jembatannya. Karena itu, kita butuh sentuhan sains untuk mengubah nasib.

Contohnya, Prof. Stella memaparkan bahwa dengan riset yang tepat, kita bisa mengubah rumput laut itu menjadi Bio-Avtur atau bahan bakar pesawat yang nilainya ratusan miliar dolar. Pasarnya terbuka lebar, bahannya ada di depan mata.

Yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian untuk membangun jembatan itu. Kita perlu mengubah pola pikir bahwa riset itu “buang-buang uang”. Justru, riset adalah satu-satunya cara agar impian kita tidak terus melangit tanpa pijakan dan kekayaan alam kita tidak terus dijual murah.

Seperti kata Prof. Stella, kita harus “Melangit dalam imajinasi, membumi dalam logika”. Dalam hal ini perekat keduanya adalah riset yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh.


Saksikan Kuliah Umum Lengkapnya

Simak inspirasi riset dan ekonomi dari Prof. Stella Christie di acara Pesta Rakyat.

IKLAN BAWAH

spot_img

SIAR IKLAN

Layanan IklanPresiden Suharto

SIAR TERKENAL

SIAR TERKAIT