SiarKota.Com | Saintek—Apa persamaan antara raksasa teknologi China, Huawei, dengan gagasan “Indonesia Abadi” dari Indramayu? Jawabannya satu: Keberanian membangun kedaulatan sendiri (berdikari) secara sungguh-sungguh.
Dunia sedang berubah. Perang hari ini bukan lagi sekadar perebutan wilayah, melainkan perang ketergantungan. Jika infrastruktur kita—baik digital maupun pangan—bergantung pada orang lain, musuh bisa mematikan kita hanya dengan satu tombol sanksi.
HarmonyOS: Deklarasi Kemerdekaan Digital
Pada awal tahun 2026, Huawei resmi “bercerai” total dengan Android lewat peluncuran HarmonyOS NEXT. Ini bukan sekadar ganti kulit. Sistem operasi ini membuang seluruh kode Android, menggunakan kernel buatan sendiri (Hongmeng Kernel), dan menolak instalasi aplikasi APK.
Banyak orang menyebut ini langkah bunuh diri. Tanpa ekosistem Google (YouTube, Maps, Gmail), sebuah ponsel biasanya akan menjadi “batu bata”. Namun, data bicara lain. Di pasar China, HarmonyOS justru berhasil menyalip iOS milik Apple dengan pangsa pasar 17%.
Huawei mengajarkan kita satu prinsip pahit: Kedaulatan itu mahal. Namun, hasilnya adalah sistem yang 30% lebih efisien. Fitur “Super Device” membuat pengguna bisa memindahkan layar ponsel ke laptop hanya dengan seretan jari. Bahkan Google belum mampu melakukannya sesempurna Huawei.
Mereka membuktikan, tekanan sanksi Amerika justru menjadi bensin untuk menciptakan teknologi yang benar-benar merdeka.
Indonesia Abadi: Kedaulatan Pangan dan Senjata
Syaykh Panji Gumilang meneriakkan semangat yang sama, meski dalam dimensi berbeda, lewat visi “Indonesia Abadi”. Jika Huawei menolak tunduk pada Google, Panji Gumilang menyerukan agar Indonesia menolak tunduk pada blok Barat maupun Timur dalam urusan pangan, pendidikan, dan pertahanan.
Dalam orasi terbarunya, dia menegaskan bahwa visi 2045 bukan sekadar angka, melainkan target kemandirian mutlak: Lumbung Pangan Dunia untuk 2 miliar orang dan Kemandirian Alutsista.
Narasi ini sangat radikal. Dia bahkan mengkritik simbol Garuda. Menurutnya, Garuda (elang) memiliki “batas usia” secara biologis. Dia menggantinya dengan filosofi “Indonesia Abadi” dari Stanza Ketiga lagu Indonesia Raya. Tujuannya jelas: mengubah mentalitas bangsa dari sekadar “bertahan hidup” menjadi “hidup selamanya” lewat kekuatan sendiri.
Sama seperti Huawei yang membangun microkernel sendiri demi efisiensi memori, Panji Gumilang merancang “Pendidikan Indonesia Abadi” di 500 kabupaten sebagai software untuk mencetak manusia unggul. Keduanya sadar, kita tidak bisa meminjam kedaulatan; kita harus membangunnya dari fondasi paling dasar.
Harga Sebuah Kebebasan
Huawei mungkin akan kehilangan pasar global sementara waktu karena hilangnya aplikasi populer. Indonesia mungkin akan terseok-seok jika memaksakan membangun nuklir dan alutsista sendiri.
Namun, sejarah mencatat: Bangsa (atau perusahaan) yang “membebek” pada ekosistem orang lain selamanya hanya akan menjadi konsumen.
Hari ini kita belajar dari dua kutub. Dari Shenzhen, kita melihat bagaimana sanksi dagang memaksa teknologi menjadi mandiri. Dari Indramayu, kita mendengar seruan agar zaman tidak menelan mentalitas bangsa hingga mati (paeh).
Pertanyaannya sekarang: Apakah kita cukup nyali untuk menempuh jalan sunyi itu? Ataukah kita lebih nyaman hidup dalam “penjajahan”—baik itu ketergantungan pada Android, maupun ketergantungan pada impor pangan?
Simak analisis lengkap mengenai revolusi HarmonyOS dalam video berikut:



